Memaksimalkan Ikhtiar

Ada sebuah landasan dari nulis kali ini. Yaitu sebuah ayat yang awampun tau artinya.
Tidaklah Kuciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)

Jadi manusia di dunia ini tidak lain adalah hanya untuk beribadah saja. Sebuah hal yang sangat berat tentunya. Apalagi ketika memikirkan jika  beribadah terus, lah kapan dong kerjanya. Iya nggak?

Nah ada beberapa yang diluruskan pola pikir seperti ini . Bahwa yang harus diperhatikan, kalau kerja itu juga bisa lho menjadi sarana beribadah kepada Allah. Misalnya saja dengan berniat untuk menunaikan kewajiban nafkah kepada anak dan istri. Sesimpel itu.

Sama seperti sholat, semakin khusuk kita dalam melaksanakan ibadah sholat maka semakin sempurnalah sholat itu. Begitu juga dalam bekerja, semakin tinggi ikhtiar dalam menjemput rizki-Nya, tentulah akan dinilai lebih sama Allah. Memaksimalkan sunnatulloh, memaksimalkan ikhtiar, itulah cara dalam memaksimalkan ibadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Jadi ternyata dalam setiap apapun yang dilakukan dari bangun tidur sampai tidur lagi bisa bernilai ibadah. Ya, kuncinya adalah bagaimana setiap detik yang dilewati ini ada nilainya.

Sebuah tindakan atau perbuatan haruslah bernilai ibadah. Karena sia-sia jika yang kita lakukan ternyata tidak dinilai ibadah kepadal Allah. Islam membagi nilai perbuatan manusia menjadi beberapa jenis yang akan dijelaskan di artikel selanjutnya. Insyaa Allah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

nine − 1 =